Jumat, 08 Juni 2012

Renungan = Perkawinan Di Kana

PERKAWINAN DI KANA
(Yohanes 2:1-11)

Image

     Dalam Injil Yohanes beberapa mujizat digambarkan selaku tanda-tanda. Terdapat rangkaian dari tujuh tanda demikian dalam cerita Yohanes. Sesudah bagian besar tanda ini menyusullah pembicaraan tentang salah satu pokok terkait. Karena itu, jelas bahwa tanda-tanda ini adalah bagian pelengkap dari struktur Injil ini. Kunjungan singkat kembali ke Galilea ini tidak disertai dengan pelayanan umum, tetapi mencakup suatu peristiwa yang memperdalam keyakinan para murid kepada Tuhan Yesus, dengan melanjutkan penekanan Yohanes pasal 1. Ada sedikit penjelasan tentang hubungan Tuhan Yesus dengan ibu-Nya dan sikapNya terhadap kehidupan sosial (bandingkan Matius 11:19). Pengubahan air menjadi anggur dicatat sebagai mujizat pertama-Nya. Tanda pertama dapat dikatakan menyediakan pentas bagi yang berikutnya. Segala tanda ini membawa kita untuk melihat kenyataan dari kemuliaan Kristus (Yohanes 2:11).

2:1 Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ;
2:2 Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.



Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ. Hari ke tiga, tampaknya berkaitan dengan Yohanes 1:43, diperlukan sekitar 2 hari atau lebih untuk menuju ke Kana yang terletak sekitar 7.5 mil di sebelah utara Nazaret (Carson, D.A., The Gospel According to John, Inter-Varsity Press, Leicester, England, 1991, hlm 168).

Yohanes mencatat kehadiran ibu Yesus pada pesta tersebut. Dalam ayat ini, sama seperti Rasul Yohanes tidak disebut "Yohanes" dalam Injil ini, demikian juga ibu Yesus tidak disebut "Maria" dalam Injil Yohanes . Keengganannya mempergunakan nama Maria di sini dalam Yohanes 19:26 mungkin disebabkan oleh alasan yang sama dengan alasannya untuk menyembunyikan namanya sendiri. Dia memiliki hubungan keluarga khusus dengan Maria (Yohanes 19:27).

Pada zaman itu, teman-teman mempelai laki-laki mengantar mempelai perempuan ke rumah mempelai laki-laki, dan di sana pesta perkawinan diadakan. Acara itu dapat berlangsung selama tujuh hari. Biaya pesta perkawinan ditanggung mempelai laki-laki (Carson, hlm 169).

Tidak dapat dipastikan apakah Yesus merencanakan perjalanan-Nya untuk dapat menghadiri pernikahan tersebut ataukah Dia dan para murid-Nya diundang setelah mereka di Galilea. Apabila yang kedua merupakan alternative yang benar, maka kejadian kehabisan anggur tersebut mudah diterangkan. Para tamu lainnya mungkin juga diundang secara mendadak.

Dalam Yohanes 21:2 kita membaca bahwa Natanael berasal dari Kana. Mungkin itu sebabnya mereka diundang ke sana, Natanael yang tinggal di Kana mungkin merupakan orang yang mengartur undangan tersebut. Tetapi mungkin juga mereka diundang karena Maria, ibu Yesus terlibat dalam perkawinan itu.


2:3 Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur."2:4 Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba."2:5 Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"


Anggur merupakan suatu kewajiban di pesta perkawinan orang Yahudi. Bagi mereka, anggur melambangkan dan membangkitkan rasa sukacita (Amos 9:13, Hosea 14:7) tetapi kemabukan dianggap tidak layak. Anggur yang dihidangkan bukanlah jus buah anggur," melainkan anggur yang mengandung alcohol (Carson, 169 bandingkan artikel "Wine dan Minuman Keras", di wine-dan-minuman-keras-vt868.html#p2364 ).

Masalah kehabisan anggur ini pasti menimbulkan rasa malu, jika apa yang mereka hidangkan tidak lengkap; Mungkin mereka bukan orang kaya, dan jumlah anggur yang mereka sediakan pas-pasan. Ada kemungkinan adalah kerabat dari mempelai itu, sehingga Maria terlibat dalam urusan konsumsi di pernikahan itu, dan dia dapat mengemukakan hal ini dan juga dapat memberi perintah kepada pelayan-pelayan.

Maria datang kepada Yesus untuk menceritakan bahwa persediaan Anggur sudah habis. Di dalam jawaban-Nya, pemakaian istilah perempuan (bukan "ibu" seperti di dalam Alkitab LAI) bukan berarti tidak menghormati (lihat artikel "Yesus memanggil ibu-Nya perempuan", di yesus-memanggil-ibu-nya-perempuan-vt58.html#p126 )


2:4 LAI TB, Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.KJV, Jesus saith unto her, Woman, what have I to do with thee? mine hour is not yet come.TR, λεγει αυτη ο ιησους τι εμοι και σοι γυναι ουπω ηκει η ωρα μουTranslit interlinear, legei {berkata} autê {kepadanya} ho iêsous {Yesus} ti emoi kai {jangan mengganggu Aku} soi gunai {hai perempuan (nyonya/ madame)} oupô {masih belum} êkei {tiba} hê hôra {waktu} mou {-Ku}


Yohanes melaporkan percakapan mereka dengan begitu singkat, sehingga nada atau sikap Maria, ibu Yesus tidak begitu tampak bagi para pembaca. Apakah yang Maria katakan itu, diucapkan sambil lalu saja, atau dengan mengharapkan mukjizat, atau dengan mengharapkan pertolongan biasa?

"Mau apakah engkau dari pada-Ku Nyonya?" Yesus bertanya kepada ibu-Nya. Kata-kata ini menunjukkan perbedaaan kepentingan dan tampaknya ada unsur menegur. Mungkin karena Maria tahu bahwa Yesus adalah Mesias, dan dia mau mendorong Dia untuk menyatakan kemuliaan-Nya, sama seperti saudara-saudara Yesus, dalam Yohanes 7:2-9. Pasti dia masih mengingat nubuat yang disampaikan malaikat dan manusia pada waktu Yesus dilahirkan. Selain itu, tampaknya sampai saat itu Yesus sering menolong ibu-Nya, sehingga Maria sudah mengerti bahwa Yesus itu sangat pintar, dan dapat diandalkan (tetapi bukan dengan mujizat, karena perikop ini menulis jelas pada peristiwa ini adalah mujizat yang pertama dilakukan Yesus). Pengertian ini sesuai dengan suatu pola yang nyata dalam Injil Yohanes, yaitu bahwa orang-orang yang berbicara kepada Tuhan Yesus berbicara pada tingkat jasmani, sedangkan Dia menjawab pada suatu tingkat rohani. Pola tersebut terlihat dalam Yohanes 3:3-4; 4: 15, 47; 5:6-7; 6:32-33, 41; dan 11:22-24.80 Maria mungkin mengharapkan agar Tuhan Yesus mempergunakan situasi dalam pesta tersebut untuk menarik perhatian orang kepada diri-Nya dengan cara sedemikian rupa untuk mendukung program Mesianis-Nya.

"Tetapi saat-Nya belum tiba", ayat-ayat Yang kemudian menunjuk kepada salib sebagai saat tersebut (Yohanes 7:30; 8:20; 12:23; 1.3:1; 17:1). Tuhan Yesus ingin ibu-Nya mengerti bahwa hubungan sebelumnya di antara mereka (Lukas 2:5 l ) sudah berakhir. Sang ibu tidak boleh campur tangan di dalam misi-Nya. Ayat 4 ini juga menyiratkan bahwa Tuhan Yesus "mengabaikan" hubungan jasmani, seperti apa yang Dia lakukan dalam Matius 19:29; Markus 3:33-35; Lukas 2:49; 11:27-28; dan Yohanes 7: 1-10, karena kaitan kekeluargaan tidak boleh mempengaruhi pola pelayanan-Nya. Dengan segala kesopanan yang layak, Tuhan Yesus menegur Maria, ibu-Nya.

Kata "saat" (Yunani, ωρα – hora) dalam frasa "saat-Ku belum tiba" penting dalam Injil Yohanes. Tujuh kali istilah (ωρα – hora dipakai dengan arti "pukul" atau "jam" (Yohanes 1:39; 4:6, 52,53; 11:9; dan 19:14) tetapi kata ini lebih sering dipakai bersandingan dengan kata "datang" (ερχομαι – erkhomai) untuk merujuk pada penyaliban dan kebangkitan Tuhan Yesus, penderitaan murid-murid-Nya, atau suatu waktu di masa depan yang tertanda kebangkitan dan penyembahan yang benar (Yohanes 4:21, 23; 5:25. 28; 7:30; 8:20; 12:23,27; 13:1; 16:2,4,25.3; dan 17:1), Dalam Yohanes 16:21 dua kata ini dipakai mengenai saat seorang ibu sakit pada waktu melahirkan, tetapi hal itu dikemukakan sebagai suatu alat peraga mengenai penderitaan Tuhan Yesus.

Teguran tersebut didasari pada suatu alasan yang sulit dipahami, yaitu "Saat-Ku belum tiba". Alasan ini pasti tidak jelas bagi setiap pembaca yang belum membaca seluruh Injil Yohanes. Namun bagi para pembaca yang sudah berkali-kali membaca Injil Yohanes mengerti bahwa ungkapan ini merujuk pada saat Dia akan dimuliakan di kayu salib, tetapi bagi orang yang belum membaca Injil Yohanes ungkapan ini hanya membangkitkan rasa ingin tahu, sehingga dia akan membaca terus, dan mencari penjelasan.

Meskipun demikian, kita masih perlu memikirkan arti jawaban atau alasan tersebut bagi Maria. Carson memberi tiga penjelasan yang tepat:
    Pertama. Tuhan Yesus mau supaya Maria, dan kita, mengutamakan Kerajaan Allah, yang dapat diumpamakan sebagai Pesta Perkawinan (Matius 22: 1-14; 25:1-13; dan Wahyu 19:7 dan 9), sehingga Dia langsung berbicara seolah-olah mengenai saat kemuliaan-Nya, yaitu Pesta Perkawinan Anak Domba. Pada zaman tersebut anggur akan berkelimpahan, seperti apa yang dinubuatkan dalam Yeremia 31:12; Hosea 14:7; dan Amos 9:13-14), tetapi saat itu belum tiba.

    Kedua, dalam peristiwa yang akan terjadi mereka akan melirik kemuliaan Tuhan Yesus, suatu kemuliaan yang akan dinyatakan dalam penyaliban, sehingga dikatakan dalam ayat 11 bahwa "Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepadaNya." Akan tetapi. Tuhan Yesus harus menyatakan kemuliaan-Nya atas perintah Allah Bapa, bukan pada permohonan Maria, ibu-Nya. Maria minta Yesus melangkah, tetapi Dia menolak, tapi kemudian Ia melakukan apa yang diminta! Pola ini juga terdapat dalam pasal Yohanes 7: 1-10.

    Ketiga, dalam Yohanes 3:27-30 Tuhan Yesus disebut Mempelai Laki-laki. Sebagai Mempelai Laki-laki yang Akan Datang Dia menyediakan anggur bagi mempelai yang namanya tidak disebutkan. Pada permulaan pelayanan di Kana, Tuhan Yesus memandang pada penyelesaiannya. (Carson, hlm 171)


Maria ditegur, karena ia, sebagai ibu-Nya sendiri, mengharapkan pertolongan dari Yesus dengan harapan yang keliru, sehingga dia ditegur (ayat 4). Lalu, dalam ayat 5, Maria menerima teguran yang lemah lembut itu, tetapi dia masih mengharapkan pertolongan dari Yesus. Dengan kata lain, dalam ayat 3 ibu Yesus datang sebagai ibunya dan dia ditegur, sedangkan dalam ayat 5 dia datang sebagai orang percaya, dan permohonannya diterima. Dalam Matius 15:21-28 dan Yohanes 4:47-50 terlihat suatu pola yang sama. Tuhan Yesus diminta melakukan sesuatu. Dia menolak, orang yang minta, ketika ia tetap meminta, dan Tuhan Yesus mengabulkan permintaannya. Di sini, kita juga melihat bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh menghargai ketabahan dalam doa. Jika seandainya iman dari Maria kurang kuat. mungkin dia akan berpikir, "Ya sudah, aku ditolak, aku harus mengurus masalah ini sendiri tanpa Yesus." Akan tetapi, karena imannya kuat, Maria tetap sabar dalam permohonan, dan dia meninggalkan masalah ini dalam tangan Tuhan Yesus. Sikap ini memang tidak dicatat secara jelas, namun kita dapat diduganya bahwa setelah Maria mengatakan sebuah pesan kepada pelayan-pelayan pesta perkawinan, dia keluar dari ruangan itu.

Ayat 5 menjelaskan, Maria menyikapi teguran Tuhan Yesus itu, Maria secara bijaksana tidak mempermasalahkan saat itu. Apabila Maria tidak dapat menyuruh Tuhan Yesus, maka dia dapat memerintahkan para pelayan untuk mentaati perintah Yesus. Dengan demikian Maria menunjukkan keyakinannya pada Tuhan Yesus. Perkataan Maria yang tercantum dalam Alkitab hanya sedikit, tetapi apa yang dicatat dalam ayat ini sungguh jelas mengarahkan kita kepada kuasa dan kemuliaan Tuhan Yesus sendiri.


2:6 Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.
2:7 Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan mereka pun mengisinya sampai penuh.
2:8 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu mereka pun membawanya.


Terdapat 6 tempayan, yang masing-masing isinya 2-3 buyung (μετρητης - metrêtês), adalah takaran Yunani bagi bahan cair ± sepadan dengan בת - BAT, dan dengan demikian ± 39,5 ltr. Jadi tempayan-tempayan dari batu yang digunakan dalam pesta nikah di Kana itu masing-masing bermuatan antara 80-120 liter (lihat artikel "TIMBANGAN & TAKARAN", di timbangan-takaran-vt2174.html#p11714 )

Hal pembasuhan atau pentahiran, dalam adat orang Yahudi adalah sangat penting bagi orang Yahudi, sesuai dengan apa yang dikatakan dalam Markus 7: 1-7. Tempayan ini disediakan untuk pembasuhan, ini lazim ada di setiap rumah tangga orang Yahudi yang setia pada agama mereka harus dilengkapi dengan tempayan seperti ini. Tidak secara kebetulan kita diberitahu bahwa tempayan itu disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi. Catatan ini menjadi petunjuk bagi para pembaca supaya suatu tema pokok dalam Injil Yohanes menjadi lebih nyata. Di dalam wadah agama lama, agama dan adat orang Yahudi, Tuhan Yesus menciptakan anggur.

Untuk mengatasi keadaan darurat tersebut, Yesus mempergunakan enam tempayan itu sebagai wadah anggur yang diciptakan. Sesuai dengan perintah ibu Yesus, pelayan-pelayan itu melakukan apa yang Dia katakan. Tempayan itu diisi penuh, sehingga tidak ada ruangan untuk menambah anggur atau sesuatu pun.

Setelah semua tempayan itu terisi penuh air, Yesus menyuruh para pelayan mencedok isinya. Yang dimaksudkan rupanya memindahkan isi tempayan-tempayan itu ke tempat yang lebih kecil. Isi yang telah dipindahkan itulah yang dibawa kepada pemimpin pesta. Beberapa orang menafsirkan bahwa pemimpin pesta ini tidak lebih dari kepala pelayan saja: sedangkan penafsir yang lain beranggapan bahwa dia adalah sahabat mempelai laki-laki yang dimintai tolong untuk bertindak selaku pemimpin upacara pesta tersebut (bandingkan Kebijaksanaan Yesus Bin Sira 32:1 dst).


2:9 Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu -- dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya -- ia memanggil mempelai laki-laki,
2:10 dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."
2:11 Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.


Rasa anggur tersebut meyakinkan sang pemimpin pesta itu bahwa mutunya lebih baik, begitu jauh lebih baik sehingga dia merasa perlu memuji tuan rumah karena memperlakukan paru tamunya dengan demikian luar biasa dengan memberikan anggur yang baik pada akhir pesta, yaitu ketika hanyak orang pada umumnya sudah demikian kenyang sehingga tidak bisa lagi membedakun antara anggur yang baik dan yang kurang baik.

"Enam tempayan", dalam ayat sebelumnya Yohanes menerangkan hubungan tempayan-tempayan itu dengan upacara-upacara pembasuhan Yahudi, itu menandakan adanya makna simbolis. Sementara orang melihat seluruh peristiwa ini sebagai catatan simbolis bukan fakta nyata, untuk menggambarkan kelebih-tinggian kekristenan atas Yudaisme. Dalam terang ini, air berarti Taurat. Perbandingan ini menerima dukungan dalam tradisi rabiniah.

Kekurangan anggur telah diatasi oleh campur tangan Tuhan Yesus. Kebenaran yang lebih mendalam dari peristiwa ini secara simbolis, ialah bahwa Yudaisme terungkap sebagai kurang sempurna (di dalam penekanannya pada berbagai macam pembasuhan seremonial dengan mengabaikan hal-hal rohani, dan di dalarn kehampaannya. sebaguimana dilambangkan oleh tempayan-tempayan anggur yang kosong), sedangkan Kristus membawa kepenuhan berkat yang paling tinggi mutunya (bandingkan Yohanes 7:37-39). Lagi pula, Tuhan Yesus melakukan hal itu Tanpa menarik perhatian untuk diriNya sendiri, sebuah teladan yang menyegarkan.

Walaupun Yohanes tidak mengatakan secara tersirat bahwa seluruh isi keenam tempayan itu menjadi anggur, dan itu tidak mustahil bahwa hanya apa yang dibawa ke pemimpin pesta menjadi anggur, tetapi jika seandainya hanya air itu yang menjadi anggur, tidakkah mukjizat "kecil" itu nanti menimbulkan kekacauan dan rasa malu bagi mereka? Jika hanya air itu yang menjadi anggur, maka nanti mereka sekali lagi kehabisan anggur! Selain itu, jika hanya apa yang dibawa ke pemimpin pesta itu yang menjadi anggur, suatu jumlah yang tidak dikemukakan oleh Yohanes, mengapa jumlah dan besarnya tempayan itu diuraikan kepada para pembaca? Sebaiknya kita mengerti bahwa seluruh isi keenam tempayan menjadi anggur. Tuhan Yesus memberi hadiah pernikahan yang besar dan mahal kepada mempelai!

Bukankah itu menjadi sesuatu yang indah, bahwa dalam tanda yang pertama ini, pemimpin pesta dan mempelai laki-laki tidak mengerti dari mana datangnya anggur itu? Hanya pelayan-pelayan itu yang mengerti. Tuhan Yesus tidak segan-segan melakukan mukjizat yang hanya dimengerti oleh beberapa bawahan saja.

Oleh karena pemimpin pesta itu tidak tahu, maka ia memuji mempelai laki-laki. Sedangkan murid-murid-Nya mengerti, maka mereka percaya kepada Tuhan Yesus. Kebiasaan yang diceritakan oleh pemimpin pesta itu memang masuk akal. Setelah tamu minum beberapa cawan anggur yang baik, kepekaan indra rasa sudah berkurang, dan mereka tidak mengerti bahwa mereka diberi anggur yang kurang baik. Kata dari pemimpin pesta ini tidak berarti bahwa tamu di pesta perkawinan itu sudah mabuk, dia hanya menceritakan suatu kebiasaan yang wajar bagi orang yang menghidangkan anggur.

Peristiwa air pembasuhan menurut adat orang Yahudi yang menjadi anggur yang baik merupakan yang pertama dari beberapa peristiwa yang membandingkan Yesus dengan adat atau agama Yahudi. Perbandingan ini telah diringkaskan bagi kita dalam Yohanes 1:17, yang berkata, "hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus." Peristiwa air pembasuhan yang menjadi anggur yang baik dapat dianggap sebuah perumpamaan yang menjadi kenyataan. Dalam sebuah perumpamaan, biasanya peristiwa itu tidak pernah terjadi, tetapi dalam ayat ini apa yang sungguh terjadi mengandung makna, sama seperti sebuah perumpamaan mengandung makna. Makna "perumpamaan yang menjadi kenyataan" ini adalah bahwa Yesus Kristus menghidangkan sesuatu yang jauh lebih indah daripada apa yang ditawarkan bagi orang Yahudi dalam adat mereka.

Ayat 11 menyebut "Yang pertama dari tanda-tandaNya". Yohanes menyinggung permulaan (Yunani, αρχη - arkhê) tanda-tanda adalah penting, karena ini menunjukkan bahwa cerita-cerita tentang mujizat-mujizat masa kanak-kanak Yesus tidak dapat dibenarkan. Pernyataan ini juga menolak "injil-injil Aprokrif" yang melaporkan serangkaian mujizat yang dilakukan Yesus ketika masih kanak-kanak. Ada orang mengarang cerita bahwa waktu Yesus masih balita, Ia bisa mengubahkan burung dari tanah liat menjadi burung yang hidup, namun cerita ini tidak terdapat dalam tulisan-tulisan yang ditulis pada abad pertama, dan para ahli kitab menganggap cerita tersebut sebagai "Apokrifa" (Carson, hlm 169, bandingkan artikel di Injil-injil Rahasia (Apokrif),bab 3, Masa Kecil, di injil-injil-rahasia-apokrif-vt2455.html#p14305 ).

Pada abad ke-2 M, Pada pihak lain, perkataan 'pertama' di sini mesti berhubungan dengan Yohanes 4:54 dimana disebutkan "tanda ke dua", juga di Kana. Mungkin yang pertama berarti melulu, yang pertama dari rangkaian peristiwa di Kana. Kata "tanda-tanda" menunjukkan bahwa tindakan lahiriahnya dimaksudkan untuk menunjukkan maksud yang ada di baliknya dengan memberikan keterangan mengenai pribadi atau karya Kristus.

Frasa "Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya" di dalam ayat 11 ini merupakan suatu istilah yang mengarahkan perhatian kita kepada kuasa Yesus untuk melaksanakan suatu perubahan rohani, sebagaimana dilambangkan dengan perubahan air menjadi anggur (bandingkan Yohanes 11:40).

Mujizat pada pesta perkawinan ini juga dapat kita mengerti bahwa, Yesus memberikan tanda-Nya yang pertama terjadi di awal pembentukan rumah-tangga, di dalam suatu keluarga disitu Tuhan Yesus memulai pekerjaan-Nya dan dampaknya bagi orang-orang sekitarnya pula.

Dalam peristiwa ini Tuhan Yesus tidak melakukan sesuatu pun secara yang fisik Ia peragakan. Dia hanya berkata (berfirman), dan perkataan-Nya itu sudah cukup. Namun, bagaimana caranya mujizat ini terjadi bukanlah sesuatu yang menarik bagi Yohanes. Yang penting bagi Yohanes adalah tanggapan setiap orang yang terlibat. Dan tanggapan yang layak adalah tanggapan murid-murid-Nya. Berbeda dengan pemimpin pesta yang disebut tidak-tahu dan para pelayan yang mengetahui mujizatNya (ayat 9). Dalam ayat 11 ini, Yohanes menulis" Murid-murid percaya kepadaNya". Para murid menjadi beriman. Hanya para murid inilah yang benar-benar memperoleh manfaat dari tanda itu. Pada perkawinan di kana itu, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya kepada enam muridNya yang pertama bahwa Dia adalah Mesias, disitu Ia menyatakan kemuliaan dan kemahakuasaan-Nya di hadapan mereka, dan iman mereka menjadi bertambah-tambah, salah satu murid yang menjadi saksi mata peristiwa ini, mencatatnya dan mengabarkan kepada kita para pembacanya untuk menjadi percaya dan mendapatkan karunia keselamatan seperti yang telah dinikmatinya. Kitapun dapat mengikuti jejaknya untuk dapat pula menyaksikan karunia besar yang diberikan Tuhan Yesus kepada umat yang percaya kepadaNya. Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar